Li Khan Hidup bermanfaat bagi orang lain lebih penting..

Aksara Jawa | Pengertian, Sejarah, Filosofi, Makna Beserta Cara Membaca

11 min read

aksara jawa

Aksara Jawa – Tulisan Jawa dan Bali merupakan turunan dari jenis aksara Kawi, salah satu aksara Brahmi hasil dari perkembangan aksara Pallawa yang berkembang di Jawa. Aksara ini dulunya digunakan untuk menulis terjemahan bahasa Sansekerta, serta berbagai literatur pada masa itu dituliskan dengan Kawi.

Wilayah-wilayah yang menggunakan jenis aksara ini antara lain Pulau Jawa, Makassar, Sunda, Melayu, Sasak, serta paling umum digunakan untuk penulisan karya sastra yang memakai bahasa Jawa.

Nah, apa dan bagaimana sih aksara Jawa itu? Pada tulisan kali ini, saya akan memberikan sedikit pemahaman tentang berbagai macam aksara Jawa, asal usul sejarah, filosofi dan contohnya. Yuk langsung saja kita masuk ke pembahasannya.

Sejarah Aksara Jawa

Sejarah Aksara Jawa
Ilmunik.com

Tidak sedikit orang yang ingin tau tentang asal-usul sejarah dari aksara Jawa ini sendiri. Sesungguhnya, terdapat beberapa legenda dari aksara Jawa yang hingga saat ini masih dikenal, bahkan diajarkan juga di sekolah-sekolah. Berikut ini adalah beberapa sejarah munculnya aksara Jawa.

Cerita Bagian 1

Ada seseorang kesatria hebat yang berasal dari tanah Jawa bernama Aji Saka. Dia mempunyai seorang abdi yang sangat setia sekali kepadanya, abdi tersebut bernama Sembada dan Dora.

Pada suatu hari, Aji saka melakukan perjalanan ke salah satu kerajaan yang bernama Medang Kamulan, yang ketika itu masih diperintah oleh seseorang raja yang sangat suka sekali memakan daging manusia. Raja tersebut bernama Prabu Dewata Cengker, yang setiap harinya meminta kepada pelayan dan prajuritnya untuk menghidangkan daging manusia untuk dimakannya.

Aji saka yang mempunyai inisiatif untuk melakukan perlawanan kepada raja tersebut bersama kedua abdinya. Singkat cerita, Aji Saka tiba di pinggiran hutan dan telah masuk ke daerah Kerajaan Medang. Sebelum rombongan mereka benar-benar masuk wilayah tersebut, Aji Saka memberikan perintah untuk abdinya yang bernama Sembada agar tetap tinggal disana dengan menjaga keris pusaka yang dipunyai Aji Saka.

Aji Saka berpesan agar keris tersebut dijaga dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali Aji Saka. Sementara Dora yang merupakan abdi kedua diajak oleh Aji Saka untuk menghadap Raja Kerajaan Medang yang suka memakan daging manusia itu.

Setelah bertemu dan menghadap dengan raja tersebut, Aji Saka membuat sebuah kesepakatan dengan Prabu Dewata Cengkar. Aji Saka bersedia dimakan oleh sang raja itu dengan syarat sang prabu harus menyerahkan kekuasaannya seluas sorban yang dipakai Aji Saka.

Prabu tersebut akhirnya menyetujui persyaratan yang diajukan Aji Saka. Aja Saka pun kemudian memohon kepada prabu tersebut untuk mengukur tanah yang dijanjikan dengan cara memegang salah satu bagian ujung sorban, serta bagian ujung lainnya dipegang oleh Aji Saka.

Prabu Dewata Cengkar kemudian mulai menarik sorban tersebut dan kemudian menjadi terbentang. Sang Prabu lalu bergerak mundur dan memanjangkannya, ia mulai membuka sorban supaya menjadi terbentang.

Dengan kesaktian yang dimiliki oleh Aji Saka, ternyata sorban tersebut tidak habis-habis ketika dibuka, sementara san prabu masih terus berjalan untuk membentangkannya. Sampailah sang prabu di tepi laut jurang batu yang terjal dan juga dalam.

Seketika itu Aji Saka menggoyangkan sorban yang dia miliki, akhirnya sang prabu terlempar ke tengah laut dan mati. Semua rakyat yang mendengar kabar itu sangat bersuka cita dan menjadikan Aji Saka sebagai rajanya.

Cerita Bagian 2

Setelah beberapa waktu menjadi raja, Aji Saka pun melupakan keris yang ditinggal dan dititipkan kepada Sembada. Aji Saka kemudian meminta Dora untuk mengambil keris tersebut. Tidak menunggu waktu lama, Dora lalu bergegas untuk mengambil keris Aji Saka, kemudian tibalah di tempat Sembada.

Di awal pertemuannya, mereka saling berbincang mempertanyakan kabar masing-masing. Lalu pembicaraan berlanjut kepada Dora yang meminta keris pusaka tersebut untuk diberikan kepada Aji Saka. Akan tetapi Sembada sangat ingat tentang pesan yang diberikan kepadanya dari Aji Saka, bahwa ia tidak boleh memberikan keris tersebut kepada siapapun kecuali pada Aji Saka.

Sembada akhirnya menolak permintaan Dora untuk menyerahkan keris tersebut, sedangkan Dora sendiri harus menaati perintah dari Aji Saka. Mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah satu sama lain demi menjaga amanah yang diterima.

Terjadilah pertengkaran dan adu kesaktian antara keduanya, sebab kekuatan dan kesaktian mereka sama, akhirnya keduanya mati sama-sama. Setelah itu, kabar kematian keduanya didengar oleh Aji Saka.

Akibat kecerobohan Aji Saka itu, Sembada dan Dora abdi yang sangat setia harus mati dalam pertarungan. Aji Saka sangat menyesal atas kejadian itu. Sebagai tanda penghormatan untuk keduanya, Aji Saka kemudian membuat barisan huruf dan juga aphabet yang sekarang ini disebut sebagai aksara Jawa.

  1. Ha Na Ca Ra Ka artinya adalah (ada dua orang utusan atau carakan).
  2. Da Ta Sa Wa La artinya adalah (saling berperang untuk mempertahankan sebuah amanah).
  3. Pa Dha Ja Ya Nya artinya adalah (sebab keduanya sama-sama dalam tingkat kesaktian).
  4. Ma Dha Ba Tha Nga artinya adalah (maka keduanya mati menjadi bangkai).

Aksara Jawa memang mempunyai jangkauan yang luas dan cukup rumit untuk dipelajari. Tapi harus terus dipelajari agar aksara Jawa ini tidak punah dan senantiasa hidup ditengah-tengah kekayaan budaya Nusantara.

Perkembangan Aksara Jawa

Perkembangan Aksara Jawa
Ilmunik.com

Asal mula penggunaan aksara Jawa sendiri terbilang sudah cukup lama, bahkan sejak abad ke 17 Masehi ketika awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Pada masa inilah ditetapkan juga abjad Hanacaraka atau carakan yang dikenal hingga saat ini.

Kemudian pada abad ke 19 Masehi berulah aksara Jawa dibuat dalam bentuk cetakan. Aksara Jawa ini aslinya adalah gabungan dari aksara Abugida dan aksara Kawi seperti yang saya jelaskan diatas ya sobat ilmunik. Jika dilihat dari struktur dari setiap huruf yang setidaknya mewakili dua buah dari abjad aksara di dalam bentuk huruf latinnya.

Hal itu juga yang menjadi bukti bahwa aksara Jawa memang hasil gabungan dari kedua aksara yang disebutkan itu. Contohnya adalah hal yang menjadi perwakilan dari huruf H dan A, kedua suku kata yang dapat dibilang utuh dibandingkan dengan kata Hari.

Kemudian di aksara Na yang merupakan gabungan dari huruf N dan A, ini juga menjadi suku kata yang utuh jika dibandingkan dengan kata Nabi. Sebab itulah, cacah huruf yang terdapat di dalam penulisan kata yang disingkat jika dibandingkan dengan peraturan menulis dalam bentuk aksara Latin.

Tidak jauh berbeda dengan jenis aksara Hindi, dalam bentuk yang orisinil, aturan untuk menulis aksara Jawa yakni Hanacaraka adalah dengan menggantungkan atau diberi garis disisi bawah. Akhirnya seiring berjalannya waktu, ada modifikasi, tepatnya di jaman modern dimana guru-guru mengajarkan Hanacaraka dengan bentuk penulisan aksara yang berada di atas garis.

Filosofi Aksara Jawa

Filosofi Aksara Jawa
Ilmunik.com

Setelah mengetahui perkembangan dan sejarah aksara Jawa, berikutnya adalah filosofi yang terkandung di dalamnya, antara lain sebagai berikut:

  • A. Sesama Sakti (Sama-sama Mengalami Kehancuran)

Jika memperhatikan bunyi dari aksara Jawa, yakni Ha-Na-Ca-Ra-Ka, Da-Ta-Sa-Wa-La, Pa-Dha-Ja-Ya-Nya, Ma-Ga-Ba-Tha-Nga bisa diartikan bahwa ada utusan, tidak bisa mengendalikan diri, sama-sama saktinya, akibatnya sama-sama menjadi mayat.

Dari aksara tersebut dapat disimpulkan bahwa aksara Jawa memiliki filosofi bahwa terdapat dua orang yang memiliki kekuatan (kekuasaan) berperang dan sama-sama tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Maka pada akhirnya akan mengalami kehancuran.

  • B. Berawal Ha dan Berakhri Nga

Aksara Jawa diawali dengan aksara Ha dan berakhir dengan aksara Nga, berarti filosofinya adalah ketika orang yang masih muda akan senantiasa ngaha (sombong). Akan tetapi jika sudah berakhir atau menua senantiasa akan menga (terbuka) atau mengeng (meninggalkan kehidupan duniawi) untuk memikirkan kehidupan setelah kematian.

  • C. Sandhangan dan Tanda Baca

Dalam aksara Jawa, sandhangan dan tanda baca bisa diartikan sebagai pelengkap dalam kehidupan manusia. Pelengkap kehidupan manusia ialah terpenuhinya kebutuhan lahir ataupun batin. Selain itu, setiap perilaku manusia juga membutuhkan rambu-rambu agar tidak terjerumus dalam jurang kesengsaraan.

  • D. Dipangku Mati

Setiap aksara Jawa yang di pangku tentunya akan mati, contohnya aksara Jawa “Ka” bila dipangku menjadi “K”. Hal ini memberi pengajaran bahwa manusia tidak boleh terlena dengan pujian yang nantinya akan melemahkan kemampuan dan keahliannya. Orang hebat itu tidak terlahir dari sebuah pujian, akan tetapi dari kritikan yang membangun bahkan pedas.

Aksara-Aksara Jawa

Aksara-Aksara Jawa
Ilmunik.com

Dalam aksara Jawa atau Hanacaraka, terdapat beberapa prosedur penulisan dan juga banyak elemen dan aturan. Dengan menjelaskan setiap huruf dan tata bahasanya, diharapkan di kemudian hari bisa memfasilitasi pembelajaran atau proses memahami prosedur penulisan Jawa sebelum berlatih menulis.

Sebab itu, penjelasan kali ini akan lebih diutamakan daripada pengertian dasar aksara Jawa terlebih dahulu. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan aksara ini, catatan seperti dibawah ini sangat diperlukan:

  • Ha menjadi perwakilan bagi fenomena /a/dan/ha/. Apabila aksara ini berada di bagian depan sebuah kata, maka akan dibaca dengan /a/. Akan tetapi aturan ini tidaklah berlaku bagi nama atau jenis kata bahasa asing selain dari bahasa Jawa asli.
  • Da pada penulisan Jawa latin dipakai untuk bagian /d/ dental serta meletup dimana posisi lidahnya ada di bagian belakang pangkal gigi seri atas kemudian diletupkan. Sementara /d/ ini berbeda sekali dari bahasa Melayu atau Indonesia.
  • Dha pada penulisan Jawa latin dipakai untuk jenis d-retofleks dimana posisi lidah dengan /d/ bagi bahasa Melayu ataupun Indonesia, tapi dengan bunyi yang diletupkan.
  • Tha pada bentuk penulisan Jawa latin dipakai untuk t-retofleks dimana posisi lidahnya sama dengan /d/, tapi untuk pengucapannya tidak diberatkan. Bunyi yang satu ini sangat mirip dengan orang yang mempunyai aksen Bali di dalam membunyikan huruf “t”.

1. Aksara Carakan

Aksara Carakan
Ilmunik.com

Aksara carakan adalah jenis aksara yang paling dasar dalam mempelajari aksara Jawa. Apabila dilihat dari namanya saja sudah bisa dimengerti bahwa jenis aksara ini merupakan untuk menuliskan kata-kata.

Penting untuk diketahui bahwa masing-masing dari aksara carakan ini mempunyai bentuk dan pasangannya (sandangan). Aksara pasangan tersebut dipakai untuk mematikan atau menghilangkan bentuk vokal dari aksara sebelumnya.

Agar sobat ilmunik mudah memahami hal ini, penting untuk dijelaskan tentang aturan pasangan di dalam aksara carakan beserta cara untuk membunyikannya. Jenis aksara ini dibagi menjadi beberapa huruf, untuk yang satu ini biasa disebut dengan Hanacaraka.

2. Sandhangan (Pasangan) Aksara Jawa

Sandhangan (Pasangan) Aksara Jawa
Ilmunik.com

Aksara pasangan atau sandhangan sendiri adalah bentuk khusus yang ada pada aksara Jawa untuk menghilangkan ataupun mematikan suatu vokal dari bentuk aksara yang sebelumnya. Aksara pasangan ini biasanya digunakan untuk menuliskan bentuk suku kata yang di dalamnya tidak ada vokal.

Contoh Penggunaan Pasangan Aksara Jawa

Untuk contoh pemakaian pasangan (sandhangan) dalam aksara Jawa ialah kata”mangana sega“(makan nasi). supaya kalimat tersebut tidak dibaca mangan sega, maka dibutuhkan untuk mematikan atau menghilangkan huruf Na.

Cara untuk mematikan huruf Na adalah dengan memberikan pasangan yang diletakkan pada huruf “se”. Dengan cara tersebut maka membaca aksara Jawa ini menjadi mangan sega.

3. Aksara Sawara

Aksara Sawara
Ilmunik.com

Aksara swara ialah salah satu jenis aksara yang digunakan untuk menuliskan huruf vokal yang asalnya dari bentuk kata serapan dari bahasa asing, agar pengucapannya lebih tegas.

4. Sandhangan Aksara Swara

Sandhangan Aksara Swara
Ilmunik.com

Setelah mengerti tentang pengertian dari aksara sawara, penting juga untuk kalian tau tentang sandhangan dari aksara swara. Sebab tidak sedikit orang yang merasa kebingungan untuk membedakan antara aksara swara dengan sandhangan.

Sandhangan adalah bentuk huruf vokal yang tidak mandiri serta digunakan pada saat berada di bagian tengah dari kata. Sementara di dalam sandhangan akan dibedakan berdasarkan cara membacanya.

Untuk jenis aksara swara tidak sama dengan jenis aksara-aksara yang lain, sebab dilengkapi dengan pasangan. Aksara swara juga mempunyai beberapa aturan penulisan yang penting untuk diperhatikan, antara lain:

  • Aksara swara tidak dapat digunakan sebagai bentuk aksara pasangan.
  • Jika aksara swara bertemu sigegan atau konsonan pada akhir suku kata yang sebelumnya, maka sigegan itu wajib dimatikan dengan yang namanya pangkon.
  • Aksara swara dapat diberikan suatu sandangan wignyan, cecak, wulu, suku dan lain sebagainya.

5. Aksara Rekan

Aksara Rekan
Ilmunik.com

Penting untuk diperhatikan bahwa berbagai macam bentuk huruf yang ada di dalam Hancaraka tidak bisa memenuhi keperluan penulisan sejumlah kata yang asalnya dari negara lain. Sebagai pemecahannya, maka dibuatlah suatu bentuk aksara reka yang dalam hal ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab.

Aksara rekan sendiri adalah jenis aksara yang digunakan untuk penulisan huruf serapan yang asalnya dari bahasa Arab. Contohnya huruf f, kn, dz dan lain-lain.

Aksara ini biasanya digunakan untuk penulisan konsonan yang ada pada kata-kata asing yang masih sesuai dengan bentuk aslinya. Aksara rekan yang ada di dalam Hanacaraka ini terbagi menjadi lima bentuk, serta semuanya mempunyai pasangan masing-masing. Untuk aturan penulisannya adalah sebagai berikut:

  1. Tidak semua aksara rekan yang ada mempunyai pasangan. Pasangan dalam aksara rekan hanyalah Fa dan yang lainnya tidak ada
  2. Aksara rekan sesungguhnya dalam praktiknya dapat diberikan pasangan.
  3. Aksara rekan dapat diberikan sandhangan seperti askara-aksara lain di dalam Hancaraka.

Contoh Aksara Rekan

Contoh Aksara Rekan
Ilmunik.com

Dengan sobat ilmunik mempelajari contoh aksara rekan, maka semakin mudah untuk membantu Anda dalam memahami penulisan yang benar dari suku kata dan bahasa yang berasal dari negara lain seperti Arab.

Contoh aksara rekan ini memang cukup sulit dan rumit sebab tidak tercover di dalam Hancaraka. Akan tetapi jika sudah mengetahui contohnya, pasti akan semakin mudah untuk membantu Anda sebagai pemula dalam mempelajari aksara Jawa.

6. Aksara Murda

Aksara Murda
Ilmunik.com

Pengertian aksara murda secara singkatnya adalah sejenis huruf kapital di dalam jenis aksara Jawa. Aksara ini secara khusus digunakan untuk menuliskan jenis huruf depan suatu nama orang, tempat, atau kata-kata lain yang awalannya menggunakan huruf kapital.

Selain itu, aksara ini juga digunakan di awal kalimat atau awal paragraf. Aksara ini biasanya digunakan juga untuk menuliskan nama gelar, nama orang, nama geografi, nama lembaga pemerintahan, dan juga nama lembaga yang berbadan.

Oleh sebab itu, di dalam bahasa Indonesia menggunakan huruf besar, maka di dalam bahasa Jawa juga menggunakan aksara khusus yang disebut aksara murda ini. Akan tetapi, penting juga dijadikan catatan bahwa tidak semua aksara yang ada di Hanacaraka terdapat bentuk aksara murdanya.

Kurang lebihnya ada delapan buah aksara murda. Aksara ini juga mempunyai bentuk pasangannya tersendiri yang berfungi atau berguna sama dengan pasangan di dalam aksara Jawa.

Contoh Aksara Murda

Contoh Aksara Murda
Ilmunik.com

Aksara ini memang tidak terlalu sulit di dalam penulisannya, dengan dilengkapi contoh tersendiri. Pastinya akan lebih membantu Anda dalam mempelajari aksara Jawa sehingga menjadikan lebih bisa. Khususnya ketika menemukan berbagai huruf kapital atau suku kata yang menggunakan huruf besar.

Sementara untuk aturan penulisannya, aksara murda ini sebenarnya sama seperti dengan penulisan aksara pokok di dalam Carakan. Akan tetapi, ada beberapa tambahan aturan, antara lain:

  1. Aksara murda tidak bisa digunakan sebagai sigeg atau yang biasanya disebut dengan konsonen penutup untuk jenis suku kata.
  2. Jika di dalam satu suku kata atau kalimat ada lebih dari satu bentuk aksara murda, maka ada dua aturan yang bisa digunakan. Yakni dengan mengikutkan aksara murda untuk terdepan saja atau dengan menuliskan semua aksara murda yang ditemui.
  3. Jika ditemukan bentuk aksara murda yang menjadi sigeg, maka wajib dituliskan bentuk aksara pokoknya.

7. Aksara Wilangan

Aksara Wilangan
Ilmunik.com

Pengertian aksara wilangan atau yang sering disebut dengan bilangan ialah aksara yang difungsikan untuk menuliskan jenis angka di dalam aksara Jawa. Aksara wilangan sendiri digunakan untuk menyatakan suatu lambang bilangan atau nomor.

Angka di dalam aksara Jawa bisa berjenis ukuran, luas, berat, panjang, nilai uang, satuan waktu dan lain-lain. Jenis-jenis kuantitas penulisan angka ini dilakukan dengan mengapitkan tanda yang ada pada perangkat bagian awal dan akhir dari penulisan angka.

Sementara untuk penulisan satuan di dalam sebuah bilangan dapat ditulis di dalam bentuk kata lengkapnya. Contohnya saja kilometer, meter, kilogram, dan lain-lain.

8. Tanda Baca Aksara Jawa

Tanda Baca Aksara Jawa
Ilmunik.com

Setelah selesai memahami secara keseluruhan tentang huruf dan juga bilangan di dalam aksara Jawa, selanjutnya masuk tentang aturan di dalam penulisan aksara Jawa itu sendiri. Tanda baca atau disebut pratandha dalam aksara Jawa dibutuhkan untuk menyempurnakan penulisannya.

Aksara Jawa sendiri memiliki berbagai macam bunyi yang berbeda pada saat diucapkan. Hal ini tergantung pada masing-masin kata yang ditulis menggunakan aksara tersebut.

Contohnya saja dapat dibaca a pada jenis kata papat serta dapat juga dibaca a di kata lara. Peraturan tersebut juga berlaku pada bunyi e yang mempunyai beberapa varian bunyi dalam pengucapannya.

Pada Hanacaraka sendiri, terdapat berbagai macam tanda di dalam penulisan aksara tersebut. Dalam perangkat lunak, terdapat lima buah tanda baca yang perlu diketahui antara lain:

  • Pada adeg-adeg

Digunakan pada adeg-adeg ialah dibagian depan kalimat di masing-masing alineanya.

  • Pada adeg

Sementara di bagian adeg ini digunakan untuk mendapatkan bagian tertentu pada sebuah teks yang perlu untuk diperhatikan, dalam hal ini hampir sama dengan tanda baca kurung.

  • Pada lingsa

Untuk pada lingsa sendiri dipakai pada bagian akhir kalimat, sebagai tanda sebuah intonasi yang masih setengah selesai. Tanda ini sama atau sesuai dengan tanda koma.

  • Pada lungsi

Pada lungsi yang digunakan pada akhir sebuah kalimat. Tanda baca ini sangat sama dengan tanda titik.

  • Pada pangkat

Pangkat ini mempunyai beberapa fungsi di dalamnya, misalnya untuk akhir pernyataan lengkap jika diikuti dengan beberapa jenis rangkaian. Selain itu, bisa juga digunakan untuk pangkat yang mengapit suatu petikan langsung.

Makna-Makna Aksara Jawa

Makna-Makna Aksara Jawa
Ilmunik.com

Sementara makna-makna yang terkandung di dalam aksara Jawa antara lain:

  • Ha : hana hurup wening suci yang di dalam bahasa Indonesia berarti adanya hidup adalah kehendak dari Tuhan yang Maha Esa.
  • Na : Nur Candra atau warsitaning Candara yang berarti pengharapan dari manusia selalu mengharapkan sinar dari Ilahi.
  • Ca : cipta weding, cipta dadi, cipta mandulu yang berarti suatu arah dan tujuan dari Sang Maha Tunggal.
  • Ra : rasingsung handulusih yang maknanya ialah cinta sejati yang timbul dari cinta kasih dalam nurani.
  • Ka : karsaningsung memayuhaning bawana yang artinya sebuah hasrat yang diarahkan untuk sebuah kesejahteraan alam.
  • Da : dumadining Dzat kang tanpo winangenan yang berarti menerima kehidupan ini dengan apa adanya.
  • Ta : tatas, tutus, titis, titi, lan wibawa yang berarti sesuatu yang mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang sebuah kehidupan.
  • Sa : suram ingsun handulu sifatullah yang berarti pembentukan kasih sayang sebagaimana kasihnya Tuhan.
  • Wa : wujud hana tan kena kinira yang berartiilmu manusia manusia yang hanya terbatas, namun untuk implementasinya sangat tidak terbatas.
  • La : lir handaya paseban jati yang berarti menjalankan hidup semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan Tuhan.
  • Pa : papan kang tanpa kiblat yang berarti hakikat Tuhan yang sejatinya ada tanpa arah.
  • Dha: duwur wekasane endek wiwitane yang berarti untuk dapat mencapai puncak harus dimulai dari dasarnya atau dari bawah terlebih dahulu.
  • Ja : jumbuhing kawula lan gusti yang berarti adalah senantiasa berusaha untuk mendekati Tuhan dan memahami kehendak Tuhan.
  • Ya : yakin marang sembarang tumindak kang dumadi yang berarti yakin terhadap ketetapan dan kudrat Illahi.
  • Nya : nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki yang berarti mantap di dalam menyembah Tuhan.
  • Ma : madep mantep manembah marang Ilahi yang berarti mantap di dalam menyembah Tuhan.
  • Ga : guru sejati sing muruki artinya pembelajaran kepada guru nurani.
  • Ba : bayu sejati kang andalani berarti menyelaraskan diri kepada gerak gerik dari alam.
  • Tha : tukul saka niat yang berarti segala sesuatu harus tumbuh dan diawali dengan niat.
  • Nga : ngarucut busananing manungso yang berarti melepaskan segala ego pribadi pada diri manusia.

Belajar Membaca Aksara Jawa

Belajar Membaca Aksara Jawa
Ilmunik.com

Penting untuk diperhatikan bahwa aksara Jawa mempunyai cukup banyak bunyi yang pastinya akan berbeda di dalam pengucapannya. Hal itu ditentukan atau tergantung dengan masing-masing kata dituliskan dengan aksara tersebut.

Contohnya a dibaca dengan a pada kata papat dan dapat juga a pada kata lara. Peraturan seperti ini juga sama terdapat pada huruf e. Membaca aksara Jawa pastinya akan lebih sulit jika dibandingkan dengan belajar membaca bahasa Inggris.

Oleh sebab itu, Anda harus benar-benar teliti dan bersabar selama proses berlatih membaca aksara Jawa. Untuk dapat membaca dengan lancar, di dalam proses membaca aksara Jawa, Anda harus berlatih membaca setiap hari dengan sesering mungkin,

Kebiasaan membaca akan membantu Anda dalam mengingat berbagai komponen di dalamnya, termasuk tanda baca dan lain sebagainya. Sebaiknya ketika proses belajar membaca aksara Jawa ini diimbangi dengan banyak menulis, sehingga akan semakin mempermudah Anda untuk cepat bisa.

Penutup

Nah, mungkin hanya itu saja yang dapat saya berikan tentang penjelasan aksara Jawa dan berbagai pembahasan lainnya. Semoga dengan penjelasan ini dapat membantu dan mempermudah Anda dalam memahami, cukup sekian dan salam dari penulis.

Li Khan Hidup bermanfaat bagi orang lain lebih penting..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *